JOIN GRUP WHATSAPP KAMIemail : admin@pekanbaruku.com

SEJARAH PEKANBARU, DARI SENAPELAN MENUJU KOTA METROPOLITAN

SEJARAH PEKANBARU

pekanbaruku.com, kota pekanbaru memiliki catatan sejarah yang sangat panjang, banyak versi atau literatur yang menceritakan tentang sejarah kota pekanbaru, oleh karena itu pada artikel ini penulis akan mencoba menceritakan sejarah kota pekanbaru dengan versi yang sederhana untuk menambah wawasan kita bersama tentang kota pekanbaru yang kita banggakan ini, semoga bermanfaat.

Jauh sebelum kita mengenal nama pekanbaru dan menjadi kota besar yang berkembang sangat pesat seperti saat ini, pekanbaru merupakan kawasan kecil yang berada di tepian muara sungai siak, kawasan ini pada awalnya hanyalah sebagai persinggahan para pedagang – pedagang yang memanfaatkan sungai siak sebagai jalur transportasi yang utama pada saat itu.

Kawasan ini merupakan bagian dari wilayah kerajaan siak sri indrapura yang disebut dusun payung sekaki, dusun payung sekaki di huni oleh penduduk asli suku senapelan, sehingga nama senapelan lebih di kenal pada saat itu.

Posisi senapelan yang berada di tepian muara sungai siak serta memiliki posisi yang sangat strategis untuk lalu lintas jalur perdagangan ke banyak daerah, menjadikan senapelan sebagai tempat persinggahan yang berkembang pesat, seiring berjalannya waktu kawasan senapelan menjadi pemukiman yang ramai dan daerahnya berkembang menjadi luas.

Melihat potensi kawasan senapelan yang sangat menguntungkan, Sultan Abdul Jalil Almudin Syah sebagai sultan siak saat itu akhirnya mendirikan istana di senapelan (berada disekitar masjid raya pekanbaru saat ini) dan juga mendirikan sebuah pasar atau disebut pekan untuk mengembangkan perekonomian penduduk, namun pekan tersebut tidak berkembang yang kemudian dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Ali yang dikenal dengan nama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah.

Dibawah kepemimpinan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah Pasar atau pekan ini akhirnya berkembang pesat menjadi pusat perekonomian penduduk, Lalu berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar) pada hari Selasa tanggal 21 Rajah 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784 M, nama Senapelan kemudian diganti menjadi “Pekan Baharu” atau Pasar yang baru yang selanjutnya tanggal 23 Juni diperingati sebagai hari lahir Kota Pekanbaru. Semenjak itu sebutan Senapelan sudah mulai ditinggalkan dan mulai populer sebutan “PEKAN BAHARU”, yang kemudian dalam bahasa kesehariannya disebut PEKANBARU.

Pekanbaru terus mengalami perkembangan sistem pemerintahan, hingga menjadi Kota Otonomi Pekanbaru

  1. SK Kerajaan Bershuit van Inlandsch Zelfbestuur van Siak No. 1 tanggal 19 Oktober 1919, Pekanbaru bagian dari Kerajaan Siak yang disebut District.
  2. Tahun 1932 Pekanbaru masuk wilayah Kampar Kiri dipimpin  oleh seorang Controleor berkedudukan di Pekanbaru.
  3. Tanggal 8 Maret 1942 Pekanbaru dipimpin oleh seorang Gubernur Militer Go Kung, Distrik menjadi GUM yang dikepalai oleh GUNCO.
  4. Ketetapan Gubernur Sumatera di Medan tanggal 17 Mei 1946 No. 103,   Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut Haminte atau Kota B.
  5. UU No.22 tahun 1948 Kabupaten Pekanbaru diganti dengan Kabupaten Kampar, Kota Pekanbaru diberi status Kota Kecil.
  6. UU No.8 tahun 1956 menyempurnakan status Kota Pekanbaru sebagai Kota Kecil.
  7. UU No.1 tahun 1957 status Pekanbaru menjadi Kota Praja.
  8. Kepmendagri No. 52/1/44-25 tanggal 20 Januari 1959 Pekanbaru   menjadi Ibukota Propinsi Riau.
  9. UU No.18 tahun 1965 resmi pemakaian sebutan Kotamadya Pekanbaru.
  10. UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah sebutan Kotamadya berubah menjadi Kota Pekanbaru.

PEKANBARU SEBAGAI IBU KOTA PROVINSI  RIAU

Berdasarkan Penetapan Gubernur Sumatera di Medan No 103 tanggal 17 Mei 1956, Kota Pekanbaru dijadikan Daerah Otonomi yang disebut Harminte (kota Baru) sekaligus dijadikan Kota Praja Pekanbaru.

Dan pada tahun 1958, Pemerintah Pusat yang dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri RI  mulai menetapkan ibukota Provinsi Riau secara permanen. Sebelumnya Kota Tanjung Pinang Kepulauan Riau ditunjuk sebagai ibu kota propinsi hanya bersifat sementara. Dalam hal ini Menteri Dalam Negeri RI telah mengirim surat kawat kepada Gubernur Riau tanggal 30 Agustus 1958 No. Sekr. 15/15/6.

Untuk menanggapi maksud surat  kawat tersebut, dengan penuh pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka Badan Penasehat meminta kepada Gubernur supaya membentuk suatu Panitia Khusus. Dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Swatantra tingkat I Riau tanggal 22 September 1958 No. 21/0/3-D/58 dibentuk panitia Penyelidik Penetapan Ibukota Daerah Swantantra Tingkat I Riau.

Panitia ini telah berkeliling ke seluruh daerah di Riau untuk mendengar pendapat pemuka masyarakat, penguasa Perang Riau Daratan dan Penguasa Perang Riau Kepulauan. Dari angket langsung yang diadakan panitia tersebut, maka diambillah ketetapan bahwa kota Pekanbaru terpilih sebagai ibukota Propinsi Riau. Keputusan  ini langsung disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri RI. Akhirnya tanggal 20 Januari 1959 dikeluarkan Surat Keputusan dengan No. Des 52/1/44-25 yang menetapkan Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau sekaligus Pekanbaru memperoleh status Kotamadya Daerah Tingkat II Pekanbaru.

Untuk merealisasi ketetapan tersebut, pemerintah pusat membentuk Panitia Interdepartemental, karena pemindahan ibukota dari Tanjungpinang ke Pekanbaru menyangkut kepentingan semua Departemen. Sebagai pelaksana di daerah dibentuk suatu badan di Pekanbaru yang diketuai oleh Penguasa Perang Riau Daratan Letkol. Kaharuddin Nasution.

Sejak itulah mulai dibangun Kota Pekanbaru dan untuk tahap pertama mempersiapkan sejumlah bangunan dalam waktu singkat agar dapat menampung pemindahan kantor dan pegawai dari Tanjungpinang ke Pekanbaru. Sementara persiapan pemindahan secara simultan terus dilaksanakan, perubahan struktur pemerintahan daerah berdasarkan Panpres No. 6/1959 sekaligus direalisasi.

Gubernur Propinsi Riau Mr. S. M. Amin digantikan oleh Letkol Kaharuddin Nasution yang dilantik digedung Sekolah Pei Ing Pekanbaru tanggal 6 Januari 1960. Karena Kota Pekanbaru mempunyai gedung yang representatif, maka dipakailah gedung sekolah Pei Ing untuk tempat upacara.

ADMINISTRASI PEMERINTAHAN KOTA PEKANBARU

Sebelum tahun 1960, Pekanbaru hanyalah kota dengan luas 16 km2 yang kemudian bertambah menjadi 62.96 km2 dengan 2 kecamatan yaitu Kecamatan Senapelan dan Kecamatan Limapuluh. Selanjutnya pada tahun 1965 bertambah menjadi 6 kecamatan dan tahun 1987 menjadi 8 kecamatan dengan luas wilayah 446.50 km2.

Dengan meningkatnya kegiatan pembangunan menyebabkan meningkatnya kegiatan penduduk disegala bidang yang pada akhirnya meningkatkan pula tuntutan dan kebutuhan masyarakat terhadap penyediaan fasilitas dan utilitas perkotaan serta kebutuhan Lainnya.

Untuk lebih terciptanya tertib pemerintahan dan pembinaan wilayah yang cukup luas, maka dibentuklah Kecamatan Baru dengan Perda Kota Pekanbaru No. 4 Tahun 2003 menjadi 12 Kecamatan dan Kelurahan/Desa baru dengan Perda tahun 2003 menjadi 58 Kelurahan/Desa.

baca : daftar kecamatan dan kelurahan di pekanbaru

 

Tinggalkan Balasan

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.